“Silakan duduk kek..” :)


fathertimerobertsloan2-main_fullTeman-teman pernah dong, lagi siang-siang gitu, matahari pas diatas kepala, nyari bus susahnya minta ampun, keringet udah menetes dengan deras (gede-gede, ada kali segede kuaci..hhe), haus lagi… Bener2 satu keadaan yang nggak enak banget deh, pulang sekolah/kuliah/kerja nunggu bus yang mau kita naikin nggak lewat-lewat. Paling yang ada kita jadi banyak-banyak berdoa sama Tuhan, semoga penderitaan ini segera berakhir. Ya kan??

Setelah bermenit-menit menunggu, akhirnya bus jurusan ke arah rumah kita lewat juga. Alhamdulillah, akhirnya… Kita julurkan tangan yang udah basah oleh keringat supaya bus tadi berhenti. Cii….iiieeettt (sound effect bus berhenti ceritanya, kan tadi doi lagi ngebut..hhe). Setelah perjuangan yang begitu mantab, rasanya kita pantas untuk duduk nyaman di kursi bus yang kadang-kadang kejam juga karena busanya udah keras dimakan usia dan nggak pernah diganti-ganti, tapi nggak apa-apalah, masih bersyukur dapat bus, duduk lagi.

Satu-persatu bangku-bangku yang kosong pun terisi penumpang, wah ada cewek cakep tuh naik, geser dikit ah duduknya, siapa tau cewek itu mau duduk samping kita karena lega, badan kita yang gembul juga dikurus-kurusin deh,hhe. Yah, ternyata dia bablas wae, kuciwa dehhh.. Bus terus berjalan “memungut” rezekinya di sepanjang jalan, walaupun mereka terlalu kejam dalam memungut. Kita yang manusia kadang disamain dengan ikan sardin yang dimasukkin dalam kaleng. Berjejal-jejal sampai kadang bus itu sedikit oleng.

“Hmm, untung kita dapat duduk.” Begitu pasti pikir kita ketika melihat sesaknya penumpang yang berdiri. Tiba-tiba bus berhenti, agak sedikit lama. Kita penasaran, dan akhirnya mulai “komentar”, “lama amat sih berhentinya bang.” Penumpang lain mulai bertanya-tanya, “ada apaan sih, kok lama banget?” Selidik-punya-selidik, ternyata ada seorang kakek naik ke dalam bus tersebut. Kakek usia 60 tahunan, sendirian tanpa ditemani siapa-siapa, berjuang keras untuk masuk ke tengah-tengah manusia yang sedang berdiri kepanasan, berkeringat, dan lelah.

Akhirnya si kakek berdiri di depan kita sedikit, berusaha menstabilkan tubuhnya diantara guncangan-guncangan maut bus yang melewati jalan berlubang. Nah, kita mulai deh “main hati” (kaya lagunya Andra & The Backbone aja). Ada perasaan yang memberontak bahwa kita tidak seharusnya duduk tenang disitu, “kasihlah itu tempat duduk untuk kakek itu,” kata si hati. Tapiiii, ternyata si otak nggak mau kalah, “menurut kalkulasi matematis saya, kondisi suhu tubuh kamu, peluang bus ini melakukan manuver-manuver gila dalam mengejar setoran, lebih baik kamu duduk aja, biarin aja itu kakek berdiri, suruh siapa naiknya belakangan.” Hohoho, perang dalam tubuh semakin bergejolak, akhirnya yang muncul adalah suatu perasaan tidak enak, sedikit salah tingkah, memalingkan muka, pura-pura tidur, sok-sok baca koran sebagai pengalih perhatian. Itu hanya pelarian, pelarian dari ketidakmampuan kita menghadapi kenyataan bahwa ada seorang kakek tua yang tetap tegar berdiri, tanpa meminta-minta bantuan siapapun.

Biasanya kita akan coba tengok kanan-kiri, kali-kali aja ada yang bangun untuk ngasih tempat duduk ke kakek tadi, “saya kan juga capek, habis berdiri lama tadi, kepanasan lagi,” pikir kita. Ternyata nggak ada tuh, tengok kanan, lagi baca koran, bacanya tinggi banget lagi, ketauan banget bohongnya. Tengok kiri, udah tidur nih bapak-bapak, perasaan tadi masih nelpon. Intip depan, tidur. Belakang, sama. Lah, kok pada kompakan gini tidurnya. Tinggal kita dong yang belum tidur?? Hmm.. Gimana ya.. kita mulai bingung.

A. Kalo kita pilih untuk memberikan tempat duduk kita ke kakek itu

Ahh, daripada kita di cap jadi makhluk yang ikut-ikutan nggak punya hati sama malaikat di kanan-kiri, bangun aja ahh. Terkadang kita harus menilai sesuatu dengan hati emang, nggak selalu dengan otak/logika. Pasti kakek tadi akan selalu mengingat kita, mudah-mudahan aja di Hari Pengadilan terakhir nanti kakek tersebut bersedia untuk jadi saksi bahwa ada satu hambaNya yang tidak ikut-ikutan tidur (baca: tidak peduli) dengan saudaranya yang kesusahan. Ada hambaNya yang masih berusaha memelihara nilai-nilai luhur dari agama yang dia anut. Mudah-mudahan Tuhan tersenyum melihat kita.

B. Kalo kita pilih untuk tetap duduk dan membiarkan kakek itu berdiri

“Hmm, saya kan juga ngantuk, capek,” begitu pasti argumen kita. Jadi nggak apa-apa dong kalo saya tidur, wong yang lain aja pada cuek bebek. Kenapa saya nggak bisa? Lupa dengan doa kita tadi kepada Tuhan, supaya penderitaan cepat berakhir (memang manusia, cepat puasnya..hhe), lagian kayanya nggak ada untungnya kalo kita ngasih tempat duduk, lain ceritanya kalo itu cewek cakep atau Caleg. Akhirnya kita tidur dengan lelapnya, membiarkan kakek tadi tetap berjuang berdiri di tengah susah kakinya menopang tubuhnya yang sudah renta, dibantu tangan keriputnya yang sudah semakin lemah untuk membantunya berdiri. We just an ordinary man, just like others. Begitu otak kita, berbicara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: